Antara Jombang, mBurno, dan Bojonegoro

Pukul 12.30 rombongan kami berangkat menuju Bojonegoro. Berniat menjalin silaturrahim dan bertandang ke rumah ustadzah Imilda yang baru dianugerahi momongan oleh Allah, kami memperkirakan lama perjalanan tidak lebih dari tiga jam. Model berfikir dan cara memperkirakan sesuatu seperti ini sebenarnya khas dan umum. Padahal model berfikir “biasanya…” atau mendasarkan sesuatu pada pengalaman sebelumnya dalam kondisi tertentu seharusnya tidak boleh diterapkan. Dan perjalanan antara Jombang, Mburno, dan Bojonegoro membuktikan betapa kita sering dijebak oleh ‘pengalaman-umume’.

Ndilalah kersaning Allah masuk kecamatan Mburno ada barisan gerak jalan. Cukup panjang dan padat. Rombongan gerak jalan yang tidak selazimnya gerak jalan itu berjubel. Aroma kemacetan mulai tercium. Truk, bus, mobil pribadi, motor berlomba menjadi peserta tidak resmi yang saling menyerobot. Alhasil kemacetan makin parah dan jalanan menjadi mampet. Sore itu, entah sampai berapa puluh kilometer Allah mengaduk keruwetan-keruwetan.

Kemacetan tidak kunjung usai. Di mobil kami menghibur diri meskipun lama-lama capek sendiri. “Barisan ngawur ini semoga finish di dekat terminal Bojonegoro,” harap seorang teman.

“Latihan sabar menjelang Ramadhan.”
“Mending aku ikut perang melawan londo daripada disiksa oleh situasi yang dilahirkan dari sikap bodoh dan bebalnya rasa empati…!”
“Setelah barisan ini finish, di kecamatan berikutnya akan ada gerak jalan manula yang jalannya thunuk-thunuk…!”

Dalam situasi sumpek yang menekan diperlukan kepiawaian mengelola hati. Sejak mencium aroma kemacetan diam-diam saya menjelmakan diri bahwa saya lebih besar dari situasi ruwet di depan mata. Untuk mengatasinya saya meminjam sifat Al-Mutakabbir. Hati terasa lapang. Mosok kalah sama Raka, putra ustadzah Ninik yang belum genap berusia dua tahun. Raka justru teramat santai menikmati kemacetan itu. Ia menghayati semangat kemerdekaan RI. Ia merdeka dari situasi yang sungguh menekan bagi manusia dewasa. Maka, saya membebaskan situasi emosi yang berpotensi bikin stress menjadi situasi menyenangkan yang suatu saat pasti akan kembali saya rindukan.

Lambat laun jalanan mulai terasa lapang. Para pejuang kemerdekaan memasuki benteng finish di sebuah lapangan. Teman serombongan tertawa lega. Mobil kembali melaju di jalan bergelombang, jalanan khas menuju Bojonegoro. Nampaknya Allah belum mengijinkan kami bergembira. Subhanallah, depan kami, di kecamatan berikutnya, belum nyampek 2 km, kami disambut kembali oleh para pejuang 45. Lemaslah badan penumpang. Diam-diam saya berdoa, “Ya Allah, di negeri yang padat dengan irasionalitas ini, janganlah Engkau benamkan bangsaku dalam kubangan lumpur kebodohan yang semakin-makin. Sinarilah kalbu Pak Camat dan panitia peringatan kemerdekaan RI di sepanjang daerah ini agar sedikit saja berfikir cerdas-empatik bahwa memacetkan jalan karena bodoh berhitung adalah sikap yang sangat menjengkelkan.”

Saya tutup doa itu dengan berterima kasih sedalam-dalamnya pada Pak Camat dan Panitia bahwa mereka telah lulus menguji kelapangan hati saya.

Empat jam kami disodori situasi surga yang dibungkus kardus demi memperingati kemerdekaan RI. Kami berangkat jam 12.30 sampai di Bojonegoro jam 17.30. Hebat kan?

Belum lama kami melangsungkan ritual ucapan selamat datang bersama tuan rumah, tiba-tiba Ustadzah Endang bersama Gus Mahsun datang. Tidak ada janjian, tidak ada telpon, tidak ada sms-an, pertemuan agung itu berlangsung tiba-tiba. Kalau bukan perkenan dari Allah, siapa lagi yang bisa mengatur pertemuan ini?

Saya merasa malam itu teman-teman sedang diangkat derajatnya ke maqam ihsan, maqam penuh cinta, yang tidak setiap hamba sanggup meraihnya. Maqam ihsan? Maqam penuh cinta? Benar, karena cinta adalah bahan bakar utama untuk meraih maqam ihsan. Tanpa cinta kita hanya akan sibuk dengan aktivitas syariat tanpa penghayatan, aktivitas sak lumrahe, aktivitas aku kerja engkau yang bayar.

Kita mengenal iman, islam, dan ihsan. Kita sudah amat piawai mengurai ketiga metodologi untuk kepentingan beribadah mahdloh kepada Allah. Iman itu yakin dan percaya; islam adalah bukti ungkapan dhohir verbal-perilaku bahwa kita yakin; dan ihsan adalah ungkapan diri bahwa kita tidak sekedar yakin dan sanggup membuktikan keyakinan itu, tetapi kita menjalankannya dengan cinta.

Maka, seorang pecinta akan memberikan sesuatu yang lebih terhadap yang dicintainya meski dengan pengorbanan. Teman-teman sesungguhnya sedang cinta pada ustadzah Imilda, mereka memberikan cinta dengan bertandang jauh-jauh dari Jombang ke Bojonegoro. Pengorbanannya adalah diuji tingkat kesabarannya oleh mas-mas pasukan gerak jalan, sang pejuang kemerdekaan, yang berjalan seenaknya, yang memacetkan jalan sampai empat jam, yang kalau ditotal bisa ditempuh untuk sampai ke Yogyakarta.

Dalam hati kami cinta koq pada ustadzah, itu ungkapan iman. Kami juga sudah urunan untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan, itu ungkapan syariat islam. Dalam hati kami cinta pada ustadzah, kami urunan sekedarnya buat si kecil, dan kami berpayah-payah menyediakan waktu, biaya, emosi berangkat ke Bojonegoro untuk menjalin silaturrahim adalah ungkapan ihsan.

Kalau Anda adalah seorang guru atau ustadz-ah, keyakinan bahwa menjadi guru adalah jalan hidup Anda, itu adalah sikap iman. Setiap pagi Anda berangkat ke sekolah dan terlibat belajar mengajar secukupnya untuk menunaikan hak dan kewajiban adalah sikap islam. Sedangkan ketika Anda berangkat cukup pagi agar memperoleh kesempatan bercengkerama dengan anak-anak sebelum bel berbunyi, lantas dengan amat santun dan telaten mendampingi anak-anak belajar di kelas, dan dengan tangis air mata Anda bemunajat kepada Allah di sepertiga malam untuk memohonkan jalan cahaya bagi murid-murid Anda – - inilah sikap ihsan.

Sikap ihsan adalah sikap memberi lebih. Tidak memberi pun tidak dosa. Seorang ihsan setingkat lebih tinggi dari kesadaran dosa dan pahala. Ia menjalankannya sudah bukan untuk memenuhi kewajiban belaka. Ia berada di tangga cinta. Dengan cinta yang dilimpahkan Tuhan untuknya ia bersedia memberi lebih tanpa harap harus menerima.

Ia terbebas dari pamrih meskipun ia kerap dikatakan sebagai orang yang lalar-gawe. Dari perspektif manusia dengan sikap islam yang mengandalkan kepatuhan syariat, apalagi di tengah sikap jaman yang sangat kalkulatif: gaji, honor, ceperan, sertifikat, jaminan masa depan - - sikap ihsan kerap terkesan bodoh dan mengabiskan waktu. Hari gini jualan cinta!

Saya pernah bercerita ibu penjual bubur yang dagangannya tidak mau dibeli semua karena pelanggan yang lain bisa tidak kebagian. Ada pula teman perempuan yang diberi nama Abdullah oleh Nabi Khidir setelah ia meminjamkan uang pada temannya, padahal putrinya sedang membutuhkan pengobatan di rumah sakit, tanpa harap uang akan kembali (karena peminjam uang kerap ngemplang hutang).

Ada juga cerita mahasiswa miskin yang kelaparan. Uangnya tidak cukup hanya untuk sekedar membeli nasi bungkus. Ia nekad, diketuknya pintu rumah orang kaya untuk meminta makan. Tak sanggup ia mengatakannya sehingga hanya segelas air putih yang dipintanya. Nyonya kaya memberinya segelas susu.

Bertahun-tahun kemudian nyonya kaya dimakan penyakit. Para dokter geleng-geleng kepala tak sanggup mengobatinya. Hingga ia tiba di upaya terakhir, di rumah sakit terakhir, dokter terakhir. Berkat pertolongan dokter itu nyonya sembuh dari penyakitnya. Nyonya kaya yang kini miskin tak sanggup membayar ongkos pengobatan dan rawat inap. Dokter muda menulis surat pembebasan segala biaya pengobatan dan rawat inap. “Aku sudah mengganti segelas air susu dengan dibebaskannya ibu dari semua biaya pengobatan,” ungkap dokter. Ia adalah mahasiswa miskin yang dulu pernah ditolong nyonya dengan segelas air susu.

Cerita tentang dokter yang dulu adalah mahasiswa miskin sempat saya e-mail ke inbox seorang teman untuk menjawab pertanyaan tentang cinta.

Betapa berat sikap memberi, apalagi memberi lebih. Berat, karena kita terbiasa meminta dan menunggu untuk diberi. Kalaupun harus memberi kita terbiasa berhitung akan memperoleh apa. Atau kita incar target perolehan tertentu lantas kita rancang sesuatu yang bisa diberikan agar target incaran tercapai. Atau kita memberi karena sudah terikat kewajiban tertentu dan mengharap hak tertentu. Sikap seperti ini bukan sikap cinta, tapi sikap pekerja biasa yang tidak pernah memiliki nilai istimewa di mata juragan. Anda pasti paham siapa juragan yang saya maksud.

Padahal tanpa harus bertujuan untuk memperoleh kenyang, dengan makan satu-dua piring perut sudah mblukek-mblukek. Nabi pun menganjurkan berhentilah makan sebelum kenyang. Itu artinya jangan menjadikan kenyang sebagai tujuan makan. Masalahnya, kita selalu rabun mata menjadikan tujuan yang tanpa dicanangkan sebagai tujuan hampir pasti tujuan itu tertuju. Dan sebaliknya, kita tidak menjadikan tujuan yang seharusnya dijadikan tujuan sehingga tujuan yang mestinya dituju menjadi tidak tertuju. Saya jadi teringat pesan sahabat saya, Gok Joe, “Sekarang segala sesuatunya harus jelas…!”

Nggeh Guk, saya sepakat. []

Jagalan, 18 Agustus 2009

Bookmark and Share

Copyright © 2008 - memoar sang guru - is proudly powered by Blogger
Blogger Template